makanan rohaniImamat 11:44
“Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi.”
 
Imamat 11 memberitahu kepada kita hukum Taurat tentang makanan. Memang hukum Taurat yang berkaitan dengan upacara sudah dihapuskan melalui apa yang sudah digenapkan Yesus Kristus, tetapi tetap ada prinsip-prinsip rohani yang bisa menjadi acuan dari simbol-simbol yang diatur oleh hukum tersebut. Ada empat kategori dalam hukum Taurat mengenai makanan dalam kehidupan orang Yahudi.
 
Kategori pertama berkenaan dengan binatang yang hidup di atas tanah. Orang Yahudi boleh memakan hewan yang memamah biak dan berkuku belah. Pemamah biak adalah binatang yang memiliki lambung ganda, mencerna makanan dua kali. Proses memamah biak ini bisa kita samakan dengan proses merenungkan, meditasi Firman Tuhan. Alkitab menuliskan bahwa jaminan keberhasilan hidup diberikan pada orang yang merenungkan Firman Tuhan, bukan sekedar membaca Alkitab (Yosua 1:8, Mazmur 1:2-3).
 
Kategori kedua adalah tentang ikan di air. Orang Israel boleh memakan ikan yang bersirip dan bersisik. Sirip adalah bagian yang bisa membuat ikan bergerak ke suatu arah yang dia tuju, tidak terbawa oleh arus laut. Sisik adalah bagian keras dari tubuh ikan yang melindungi dari hal-hal yang tidak bersih di lautan. Kita harus mengembangkan kehidupan yang digerakkan oleh tujuan (purpose driven) dan menjauhkan diri dari pengaruh negatif dunia ini (Yohanes 15:19).
 
Kategori ketiga berkenaan denga burung di udara. Burung-burung yang dilarang dimakan antara lain burung rajawali, elang hitam, burung gagak, burung hantu dan sebagainya. Ini adalah jenis burung-burung yang memakan bangkai, daging binatang mati. Paulus mengatakan bahwa kalau kita hidup menurut daging, kita tidak akan mewarisi Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). 
 
Kategori keempat adalah serangga yang memakan sampah dan kotoran (feces). Karena tergolong serangga yang tidak bersih maka orang Yahudi dilarang memakannya. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1 Tesalonika 4:7). Makanan Yesus seperti dalam nubuat nabi Yesaya adalah dadih dan madu (Yesaya 7:15). Dadih adalah lemak atau minyak dari susu, ini berbicara tentang minyak Roh Kudus. Madu berbicara tentang manisnya Firman Tuhan. Jika kita menyerahkan kehidupan kita pada Firman dan Roh Kudus, kita akan kuat dalam kekudusan serta hikmat. Sama seperti Kristus, kita akan bisa menolak yang jahat dan memilih yang baik.