garam terangMatius 5:13-14

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

Tuhan ingin menyelamatkan orang-orang berdosa.

Alasan utama Yesus datang ke dunia adalah untuk menyelamatkan orang terhilang.

Suatu hari Yesus sementara mengajar di Balai Kota. Dia melihat ada dua kelompok pendengar. Pertama adalah pemungut cukai dan orang berdosa, yaitu orang yang tidak beragama, terabaikan, kurang rohani. Kedua adalah farisi dan ahli taurat, yaitu orang beragama (Lukas 15:1-2a). Orang farisi dan ahli taurat memprotes Yesus karena menyatakan diriNya sebagai Anak Allah dan bergaul dengan orang-orang kurang rohani (Lukas 15:2b). Kemudian Dia memberitahukan 3 perumpamaan sekaligus, supaya semua orang tahu dengan pasti siapa saja yang berharga di pemandangan Tuhan, yaitu perumpamaan domba terhilang (Lukas 15:3-7), perumpamaan uang yang hilang (Lukas 15:8-10), perumpamaan anak terhilang (Lukas 15:11-24). Yesus menunjukkan kita  bahwa orang tersesat, terhilang, dan kebingunan sesungguhnya sangat berharga bagi Bapa Sorgawi. Itulah belas kasihan Tuhan atas kita orang berdosa.

Misi utama orang percaya adalah menyelamatkan orang terhilang.

Dari ketiga perumpamaan Yesus dalam Lukas 15, kita melihat kesamaan yang lain, yaitu hal yang hilang tersebut layak untuk membuat mereka mencari secara habis-habisan. Perumpamaan ini menekankan pada kesungguhan mencari. Dalam mencari orang terhilang, Tuhan sungguh-sungguh ingin mencari sampai jiwa tersebut ditemukan. Kita harus berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan, menantang, dan mempengaruhi orang supaya mereka bisa diselamatkan (Lukas 14:23). Tetapi sama seperti ayah dari anak terhilang, kita harus menghormati pilihan bebas dari orang terhilang. Kita harus membagikan kasih serta perhatian Tuhan dengan suatu rasa mendesak yang tinggi.  

Dalam kotbah di bukit, mengapa Yesus mengambil perumpamaan tentang garam dan terang? (Matius 5:13-14)

Pertama, garam membuat kita haus. Orang Kristen yang memiliku suatu hidup yang punya tujuan dan sukacita Tuhan, akan membuat orang-orang di sekitar mereka memiliki kehausan akan Tuhan (Yohanes 7:37). 

Kedua, garam menambah rasa. Kita tidak boleh menjadi orang yang membosankan dan tidak menarik. Kita harusnya kreatif, menyenangkan, di garda depan dan unggul dalam segala yang kita kerjakan.

Ketiga, garam menjaga dari kebusukan. Waktu orang percaya menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan, maka mereka akan menjaga dan membawa nilai-nilai akitabiah serta kebenaran. Supaya garam bisa memberikan rasa, maka garam tersebut harus punya potensi, dan harus dibubuhkan atau didekatkan pada apa pun yang ingin dipengaruhinya. Keasinan kita sebagai garam sebanding dengan kedisiplinan pengiringan pribadi kita bersama Tuhan dan hal tersebut menunjukkan kedewasaan rohani kita. 

Selain garam, Yesus mengatakan bahwa kita adalah terang. Terang itu menyinari, membuat suatu benda kelihatan. Terang membuat kita bisa melihat secara jelas dan akurat. Yesus ingin kita untuk bisa menjadi terang rohani bagi orang lain bukan hanya dengan menghidupi ajaranNya, tetapi juga dengan menerangkan berita Injil tentang pengampunan dan kasih karunia secara jelas dan akurat. Itulah artinya menjadi terang dunia. 

Jadi kalau disatukan, formulanya adalah PB (Potensi Besar) + PA (Pendekatan yang Akrab) + KJ (Komunikasi yang jelas) = DM (Dampak Maksimal).